HALAL: Sekedar Strategi Jualan?

HALAL: Sekedar Strategi Jualan?

17 Nopember 2017

Belakangan ini, semakin banyak brand yang melabeli produknya dengan kata atau logo HALAL. Medina salah satunya. Akhirnya banyak juga pertanyaan yang muncul:

• Mengapa HALAL itu penting?

• HALAL itu batasannya apa? Bukankah klaim HALAL itu hanya penting untuk makanan?

• Apa hubungannya plastik wadah makanan dengan HALAL?

• Apa jaminannya bahwa sebuah produk benar-benar HALAL?

• Apa proses yang dilalui dalam menentukan sebuah produk HALAL atau tidak?

• Berarti kalau tidak ada jaminan HALAL, sebuah produk sudah pasti tidak HALAL?


Dan pertanyaan terbesarnya: Apakah klaim HALAL itu hanya sekedar strategi jualan saja, supaya produknya laku?


Artikel ini bisa jadi panduan untuk Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi untuk pengetahuan Anda sendiri dan untuk dibagikan ke calon pembeli.

Karena kalau pertanyaan-pertanyaan itu muncul, berarti ada kekuatiran yang menghalangi untuk membeli, memiliki, dan menikmati berbagai klaim manfaat dan keunggulan produk.

Kalau Anda bisa menjawabnya, berarti Anda berhasil meruntuhkan penghalang besar antara tahap pertimbangan dan tahap pembelian, serta membuka akses menuju hidup yang lebih berkualitas dan bisnis yang lebih berkembang.


Yuk, kita mulai dari pertanyaan pertama:


Apakah HALAL hanya untuk umat muslim, dan apa manfaatnya?

Baik untuk diri sendiri maupun keluarga, cara paling mudah dan paling benar untuk hidup lebih sehat adalah dengan cara hidup higienis, dan semua itu sudah tercakup di dalam aturan HALAL. Makanya sekarang tren HALAL bisa mendunia dan diikuti oleh masyarakat di seluruh dunia, tidak hanya umat muslim.

Mengapa HALAL itu penting?

Berdasarkan pernyataan dan anjuran dari sejumlah Ustadz, Ulama, pejabat MUI, dosen universitas, dan ahli gizi, HALAL itu hal yang wajib bagi umat muslim demi mendapatkan ketenangan dalam kehidupan, kesempurnaan dalam beribadah, dan tentu saja kesehatan.

HALAL harus dilihat secara keseluruhan, tidak boleh hanya bagian tertentu saja dan tidak boleh tercampur sedikitpun bahkan setetespun dengan yang tidak HALAL.

HALAL itu batasannya apa? Mengapa sertifikasi HALAL itu dibutuhkan?

HALAL adalah segala sesuatu baik perbuatan maupun zat/benda yang diperbolehkan menurut syariat Islam. Jadi, HALAL bukan untuk makanan saja, melainkan untuk segala benda, bahkan juga perbuatan.

Sekarang kita fokus ke benda, terutama makanan. Para ulama membuat kaedah: “Hukum asal segala sesuatu adalah HALAL dan sesuatu tidak diharamkan kecuali jika Allah dan Rasul-Nya mengharamkannya.”

Jadi, di luar hal-hal yang dinilai tidak HALAL di dalam syariat Islam, semua makanan dan benda adalah HALAL dan tidak diharamkan.

Masalahnya, hampir semua produk yang ada di pasaran bukanlah produk segar, melainkan produk olahan.

Di dalam tahap pengolahan, ada penambahan zat-zat tertentu selain bahan dasar. Entah itu untuk mengawetkan, memberi rasa/warna, menambah ketahanan, dan sebagainya.

Contohnya begini: kelapa itu HALAL. Saat kelapa diolah menjadi santan A dan dikemas untuk dijual, hampir bisa dipastikan ada penambahan bahan-bahan lain selain kelapa.

Jadi dibutuhkan sertifikasi HALAL untuk memastikan dan meyakinkan konsumen bahwa tidak ada zat tidak HALAL yang ditambahkan di dalam proses pengolahan produk santan A.

Lalu, apa hubungannya plastik wadah makanan dengan HALAL?

Sama seperti contoh di atas, dalam proses produksi plastik, selain bijih plastik (HALAL), ada penambahan zat (belum tentu HALAL) yang diperlukan untuk memberi kualitas tertentu pada produk jadinya nanti.

Zat aditif dan pigmen adalah 2 hal yang sering digunakan di dalam produksi plastik, yang seringkali merupakan hasil olahan dari hewan.

Perlu diingat bahwa tidak semua zat aditif dan pigmen merupakan hasil olahan hewani. Ada jenis-jenis pigmen/aditif tertentu yang dibuat dari tumbuhan/nabati dan dinilai HALAL oleh MUI.

Kembali ke topik, plastik wadah makanan tentu digunakan untuk menyimpan atau menyajikan makanan, sehingga bersentuhan dengan makanan. Kita juga tahu bahwa makanan biasanya disajikan panas, dan pasti ada gesekan yang terjadi dengan sendok atau peralatan makan lain.

Standar internasional FDA mengatur dengan ketat risiko migrasi zat dari wadah ke makanan, dan tolok ukurnya adalah batas minimum migrasi zat dalam kondisi-kondisi tertentu (seperti suhu tinggi dan gesekan) yang masih diperbolehkan dan aman untuk kesehatan. Bukan apakah migrasi itu terjadi atau tidak.

Migrasi pasti terjadi, dan ada batas-batas toleransi yang masih diperbolehkan untuk terjadi. Pengecualiannya adalah untuk kandungan logam berat seperti timbal, yang mematikan dan mutlak tidak boleh masuk ke dalam tubuh.

Bicara soal mutlak, sekarang kita sedang bicara tentang HALAL yang mutlak hukumnya. Jika terjadi migrasi zat tidak HALAL sesedikit apapun ke dalam makanan, maka makanan itu menjadi tidak HALAL.

Apa jaminannya bahwa sebuah produk benar-benar HALAL?

Sistem jaminan HALAL adalah suatu pengelolaan terhadap bahan, proses, produk, sumberdaya manusia, dan prosedur untuk menghasilkan produk HALAL dan menjamin ke-HALAL-annya secara konsisten dan berkelanjutan.

  • Siapa saja yang terlibat di dalam sertifikasi sistem jaminan HALAL?

Pertama, MUI atau Majelis Ulama Indonesia, yang merupakan rujukan dan pengawas lembaga HALAL seluruh dunia, dari ASEAN, Asia, USA, hingga Eropa.

Penetapan Sertifikat HALAL MUI diatur di dalam MoU LPPOM MUI dan BPOM RI tahun 2013 tentang Ijin Label HALAL pada Kemasan Produk. Jadi selain lembaga keagamaan, lembaga pemerintah yaitu BPOM RI juga turut serta.

Pada produk yang memiliki sertifikat HALAL dari MUI, logo HALAL yang resmi dari MUI wujudnya seperti contoh di bawah ini. Lain dari itu, berarti bukan resmi dari MUI, dan kemungkinan merupakan logo HALAL palsu.

Perusahaan produsen diaudit kemampuannya dalam memproduksi produk HALAL melalui sistem jaminan HALAL. Kebetulan semua produk Medina berasal dari produsen dengan SJH grade A (sangat baik).

Apa proses yang dilalui dalam menentukan sebuah produk HALAL atau tidak?

Berikut rangkaian prosedur sertifikasi Sertifikat Jaminan HALAL (SJH) dari awal hingga akhir:

  1.  Sistem manajemen dokumen
  2.  Pengunggahan dokumen
  3.  Ondesk audit oleh LPPOM MUI
  4.  Pelatihan internal dan eksternal
  5.  Onsite audit oleh LPPOM MUI
  6.  Rapat Auditor LPPOM MUI
  7.  Rapat Fatwa MUI
  8.  Sertifikat HALAL MUI


Dan ini persyaratan yang harus dipenuhi bagi perusahaan pengaju SJH:

Kebijakan HALAL, termasuk pernyataan komitmen dan sosialisasi ke divisi-divisi terkait  

Pembentukan tim manajemen HALAL, termasuk penetapan tugas dan tanggung jawab

Pelatihan internal dan eksternal, untuk menambah pengetahuan dan kompetensi

Penggunaan material yang tidak haram dan tidak najis

Peralatan dan fasilitas yang bebas dari kontaminasi najis dan haram

Proses produksi yang bebas dari kontaminasi najis dan haram

Produk yang bentuk, nama dan desainnya tidak mengarah ke haram

Keterlacakan sumber, termasuk material, mesin, dan manusia

Penanganan keluhan, termasuk juga prosedur penarikan dan pemeriksaan

Audit internal minimal 2 kali pertahun

Ulasan manajemen minimal 1 kali pertahun


Tiga hal yang termasuk di dalam kriteria produk HALAL:

1. Material

Material atau bahan (termasuk pigmen) harus dicek, apakah memiliki sertifikat HALAL, memenuhi Material Safety Data Sheet, bebas dari unsur hewan, diproduksi di fasilitas yang bebas unsur babi, memiliki proses produksi yang baik, serta lulus uji food contact standar FDA.

Penggunaan setiap material baru juga harus diajukan ke LPPOM MUI sebelum digunakan.


2. Produk

Selain bahan, produk juga harus memenuhi syarat: tidak terkontaminasi najis, memiliki kode untuk melacak sumber  alur produksi, terdaftar di MUI, serta tidak mengarah ke haram (misalnya bentuk, nama, atau desainnya berhubungan dengan babi)


3. Penyimpanan dan pengiriman

Persyaratannya tidak sampai di situ saja, karena produk akan melalui proses penyimpanan dan pengiriman terlebih dahulu sebelum sampai di tangan pembeli. Untuk itu, perlu dipastikan bahwa lokasi dan kemasan penyimpanan bebas dari kontaminasi zat najis serta memenuhi prosedur FIFO (first in, first out). Fasilitas pengiriman dan shipping juga perlu diselidiki, apakah aman dari kontaminasi zat tidak HALAL.


• Berarti kalau tidak ada jaminan HALAL, sebuah produk sudah pasti tidak HALAL?

Tidak berarti begitu juga. Artinya hanya bahwa perusahaan tersebut belum mengajukan sertifikasi HALAL dan jaminan HALAL, atau sedang melalui proses tersebut.

Di luar sertifikasi HALAL, tentu masih ada standar-standar keamanan dan kesehatan lain yang menjadi syarat diproduksi dan diedarkannya sebuah produk.

Kami percaya bahwa semua produsen dan brand ingin mempersembahkan yang terbaik untuk konsumen, dan sertifikasi HALAL Medina adalah upaya kami untuk memberi nilai plus di dalam produk-produk dengan kualitas unggulan.

 

Pertanyaan terakhir:


• Apa klaim HALAL itu hanya sekedar strategi jualan saja, supaya produknya laku?

Untuk pemasaran, tentu label HALAL adalah poin penting untuk diangkat. Jadi jawabannya: klaim HALAL adalah bagian dari strategi jualan. Namun di balik itu, ada banyak pertimbangan logis dan prosedur cermat untuk memastikan bahwa setiap produk Medina memenuhi tiga persyaratan penting: HALAL, sehat, dan aman.

Di samping label HALAL, produk-produk Medina dilengkapi juga dengan garansi seumur hidup untuk menjamin kualitas, serta menggunakan material yang sesuai dengan standar FDA untuk keamanan dan kesehatan konsumen.

Berbagai uji produk juga dilakukan agar produk Medina benar-benar aman dan sehat untuk konsumen, di antaranya tes migrasi metoda FDA, EN71 1-3 dan uji kandungan logam berat untuk keamanan dan kesehatan seluruh keluarga.


Cari tahu apa saja produk-produk wadah makanan HALAL berkualitas dari Medina.

https://www.dusdusan.com/katalog/medina/available-desc/0/20/


Tertarik untuk membuka peluang bisnis baru di pasar plastik HALAL? Anda bisa mulai sekarang dengan menghubungi TDS/DDC Partner terdekat di kota Anda atau bisa langsung ke dusdusan.com


 

Loading

Cari

Menu

Tutup