Melatih Jiwa Entrepreneurship Sejak Dini A la Ratih Zulhaqqi

Melatih Jiwa Entrepreneurship Sejak Dini A la Ratih Zulhaqqi

31 Mei 2017

Semenjak kurikulum pendidikan berubah sekitar awal millennium baru, bahasan tentang kewirausahaan jadi kajian tersendiri untuk dipelajari para pelajar Indonesia. Alasan intinya bisa jadi sesederhana: Indonesia memerlukan cara untuk memperkuat perekonomian. Kuncinya, butuh anak-anak yang tangguh berbisnis.

Dalam sebuah kesempatan bersama Medina, Ratih Zulhaqqi M.Psi ternyata berpikir lebih progresif lagi soal hal ini. Psikolog anak tersebut mengatakan jiwa kewirausahaan harusnya ditanamkan sejak dini, sedari mereka masih kecil. Kira-kira cara apa saja yang dapat membuat seorang anak memiliki jiwa kewirausahaan? Yuk langsung simak saja!

 

Mengajari anak independen

Pada masa anak-anak, manusia biasanya lebih cepat dalam ‘menangkap’ sesuatu. Misalnya saja, anak kita yang sudah mulai memasuki usia 5 tahun, di tahun ini sejatinya Bunda sudah bisa untuk mulai menanamkan jiwa independensi pada anak. Independensi adalah mengajarkan pada anak untuk tak terlalu bergantung pada orang tua. Mulailah mengajarkannya dari hal-hal kecil, seperti mengambil barang atau makan sendiri. Jadi si kecil dapat melakukan pekerjaannya sendiri tanpa harus dibantu orangtua. “Makannya bikin berantakan? Ya nggak apa-apa. Kalau nggak berantakan berarti anak tidak belajar dong,” ujar Ratih. Memang butuh diawali ketahanan mental bunda sendiri untuk hal satu ini, tahan melihat anaknya berani berusaha mencari solusi buat diri mereka sendiri.

 

Merangsang rasa ingin tahu yang tinggi

Orangtua harus memberikan rangsangan rasa ingin tahu untuk anak agar memiliki jiwa kewirausahaan. Salah satu caranya dengan menggunakan medium mainan. “Pada anak usia 2-3 tahun paling baik main jenis sensory play. Main slime juga bisa. Nanti dia jadi tahu kalau slime rasanya begini, ada warnanya ya, atau muncul pertanyaan, ‘tanganku kok jadi lengket begini?’ dan seterusnya,” tuturnya. Dengan begitu, anak dirangsang untuk memiliki kemampuan memecahkan masalah. Rasa ingin tahunya jelas terasah. Kuncinya, biarkan anak kita merasakan prosesnya sendiri. Bunda tidak perlu terlalu banyak menuntun anak dalam permainan. Biar anak kita menuntun rasa ingin tahunya sendiri. Dengan begitu, saat tidak ada di dekat bunda, dia pun sudah terbiasa untuk menjawab rasa ingin tahunya sendiri.

 

Melatih emosi agar tahan banting

Memanjakan anak bukanlah perlakuan yang bijak dari orangtua jika ingin anaknya jadi seorang pengusaha sukses. Ini terutama saat anak mengalami benturan emosi negative, marah, sedih ataupun jengkel. Kita sendiri terkadang terganggu secara mental begitu melihat anak berada dalam emosi negative. Ratih mengungkap anak harus bermental kuat dan tahan banting menyikapi emosi tersebut. Langkahnya cukup sederhana, yaitu mengajarkan dan memberitahunya tentang emosi, serta membebaskannya mengekspresikan emosi tersebut. “Penting sekali untuk bertanya perasaan anak. Dengan begitu, si kecil akan tahu berbagai macam emosi dan perasaan. Ketika sudah mengenal, biarkan ia mengekspresikan emosinya, jangan dilarang atau ditahan," tutur Ratih. Biarkan anak bersahabat dengan emosi negatifnya, sehingga paham harus bagaimana ketika situasi negatif datang menghampiri

 

Mengasah kreativitas dan mengembangkan inovasi

Bunda, sifat penting yang perlu dimiliki seorang pengusaha adalah kreatif dan inovatif. Menurut Ratih, cara terbaik agar anak memiliki jiwa tersebut adalah memberinya kebebasan untuk mengembangkan kreativitas dan membiarkannya berinovasi dalam permainan. Tapi, hal ini tidak berlaku untuk bermain gadget ya bun... Hal itu secara gamblang diterangkan oleh Ratih tidak masuk hitung-hitungan bermain.

“Main bareng orang tua, main peran jadi dokter-dokteran atau guru misalnya, itu yang bisa melatih kreativitas berpikir," tambahnya lagi. Mengapa? Karena permainan alami memiliki jutaan solusi lebih banyak untuk menjawab kebutuhan hidup. Sedangkan dengan gadget, solusinya sudah ditentukan oleh bahasa mesin itu sendiri.

 

Itulah tips dari Ratih agar anak Bunda nantinya memiliki jiwa kewirausahaan yang mumpuni. Nah, sudah siap kan bunda menjadikan anak bersahabat dengan emosi-emosinya sendiri. Bukan hanya emosi negatif saja ya, tapi juga saat emosi positif.  Saat sang anak jadi pemenang, latih mereka agar tidak sombong. Saat mendapatkan sesuatu, biarkan dia berlatih untuk bersyukur. Salam hangat untuk si kecil dan selamat mencoba ya, Bunda! :)

 

Loading

Cari

Menu

Tutup